Blog ini berisi cerita-cerita ringan dari seorang guntur dalam menjalani hidup. Karena hidup adalah perjalanan dan Sukses yang besar dimulai dari langkah-langkah yang kecil.
13 September 2016
Selamat datang anak perempuanku
13 Agustus 2015
Gesekan dan Nilai Kebaikan
Terkait judul di atas. Itu muncul dari inspirasi saat berdiskusi santai dengan Paman saat mau balik ke Padang. Sudah sering sebenarnya kami diskusi semenjak dulu. Dari mulai jaman kuliah sampai awal-awal kerja, Um-lah (baca:paman) salah satu patner diskusi dalam segala hal kehidupan. Biasanya perbincangan akan semakin seru saat kita membicarakan hasil perenungan, pengamatan dan pemahaman baru dalam kehidupan.10 Agustus 2015
Kantor didatangi Polisi
Sebenarnya kejadian kantor didatangi polisi bukan barang baru buatku. Karena pada saat tugas di lampung beberapa kali juga kantor didatangi polisi. Hmm..mungkin inilah salah satu resiko bekerja di perusahaan pembiayaan. Dimana salah satu resikonya bersinggungan dengan customer yang bermasalah. Ini kembali lagi pada perkataan yang umum orang sering dengar bahwa setiap pekerjaan pasti ada resikonya. Bahkan pekerjaan yang santai sekalipun pasti ada resikonya yaitu penghasilan yang berkurang.07 Agustus 2015
Ngeblog di Handphone baru
30 Mei 2015
MINGGU PAGI INI
Sudah hampir lima bulan aku bertugas di Cabang Padang. Selama itu pula aku harus terpisah dengan anak istri tercinta. Aku diberi jatah oleh kantor bisa pulang sebulan sekali untung mengobati kerinduan. Selalu ada perasaan yang mengharu biru pada saat mau pulang. Antusiasme dan semangat sangat besar saat perjalanan pulang dari Padang ke Lampung.23 Mei 2015
Welcome Aisha to Indonesia
Tahun 2014 menjadi sejarah baru dalam
kehidupanku. Karena pas dtahun tersebut aku dikaruniai seorang putrid kecil
yang cantik. Mengenai jenis kelamin dia yang perempuan memang sudah aku ketahui
saat memasuki usia kehamilan enam bulan. Sempat agak kecewa sedikit di awal,
karena sebelumnya memang aku menginginkan bayi laki-laki. Hanya saja perasaan
itu hinggap sebentar saja. Setalahnya perasaan gembira, senang dan bangga
karena sudah diberi anugerah oleh Tuhan berupa anak yang terlahir dengan sempurna
dan cantik secara fisik.Besar harapanku sebagai orang tuanya. Kelak anak ini akan menjadi manusia yang kehadirannya selalu dinantikan. Ketidakhadirannya selalu dirundukan. Karena kehadirannya bisa memberi kegembiraan. Dimanapun dia berada bisa menjadi pembeda. Memberi arti dan manfaat buat orang banyak. Aku juga berharap anaku nanti jauh lebih hebat dan jauh lebih sukses dari orang tuannya. Bisa menjadi tumpuan dan harapan buat orang sekitarnya. Berlebihan mungkin rasanya bagi sebagian orang, tapi buatku itu wajar.
Kehadirannya menjadi pelita cahaya saat aku merasa dalam kegelapan. Laksana embun di pagi hari. Oase di tengah padang pasir yang tandus. Multivitamin saat aku merasa lelah. Dan karenanya aku merasa tidak ada alas an untuk aku menyerah dalam kehidupan ini. Semua yang aku kejar dalam hidup, pada akhirnya bermuara untuknya. Semoga aku bisa menjaga amanah yang sudah diberikan oleh Allah SWT. Mendidik dia menjadi anak yang tidak hanya pintar tapi juga sholehah…Amiin
17 Januari 2014
Istri Sakit
Hari ini tanggal 17 januari 2014. Aku sudah disibukan oleh istriku yang ternyata mengalami demam. Panasnya tidak turun-turun dari semalam, sehingga mengharuskan aku membawa dia ia dibawa ke dokter. Ini kali pertama membawa dia ke rumah sakit. Jujur aku memang sempat merasa kesal, karena tidak enak saja harus meninggalkan kantor, sedangkan pekerjaan rumah juga masih menyisakan cukup banyak.11 Januari 2014
Welcome 2014
![]() |
| Foto Prewedding |
23 Agustus 2013
Tak Ada Kata Jumawa
30 September 2012
Cabang Manado
Belum genap 5 bulan aku menetap di Pulau Sulawesi (Kota Manado), karena
alasan untuk untuk kepentingan perusahaan dan kebijakan manajemen, akhirnya aku
ditarik lagi ke Pulau Sumatra. Masih ingat betul padahal tanggal 20 April 2012,
saat pertama menginjakan kaki di Kota Manado. Sebuah kota yang kata sebagian
orang yang pernah kesana dan merasakan atmosfer-nya disebut-sebut kota yang
sangat nyaman dan ramah untuk dihuni.10 Desember 2011
ANTARA BERKURBAN DAN KORBAN PERASAAN
Selamat hari raya Idul Adha buat seluruh umat Islam yang sedang merayakannya. Semoga kita dapat memahami dan menangkap pesan moral dari apa yang dinamakan berkurban. Sejarah Idul Adha dimulai masa Nabi Ibrahim AS yang hidup ribuan tahun lalu diminta oleh Allah untuk menyembelih putra kesayangannya yaitu Nabi Ismail AS. Kepasrahan, ketaatan dan kecintaan kepada Sang Pencipta yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS dengan merelekan anak kesayangannya untuk “dikurbankan”.
Makna filosofis dari ibadah kurban terlihat dari simbolisasi Ismail sebagai sesuatu yang sangat dicintai, sesuatu yang berharga. Tapi harus direlakan untuk “dikurbankan” kepada Sang Maha Segala. Dalam kontek kekinian sesuatu yang berharga mungkin itu bisa dianalogikan dengan rumah megah, harta yang melimpah, perhiasan dan mobil yang mewah serta luasnya tanah.
Berkurban mengajarkan kita untuk tidak terlalu cinta dunia. Berapa pun banyak harta yang kita punya toh akhirnya tidak akan dibawa mati. Seperti pepatah gajah mati hanya meninggalkan gadingnya, harimau mati meninggalkan belangnya, nah kalau manusia mati hanya meninggalkan nama baik dan amal ibadahnya selama dia hidup. Dengan berkurban kita diajari bagaimana merelakan apa yang kita cintai, dalam hal ini bersifat keduniawian, yang dalam hal ini disimbolkan oleh hewan kurban untuk dibagi-bagikan kepada yang membutuhkan.
Makna lain dari berkurban adalah mengajarkan kita untuk selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Tuhan. Dengan berkurban merupakan wujud syukur kita atas rejeki yang sudah diberikan Tuhan, sehingga akhirnya kita bisa membantu orang yang tidak mampu untuk melupakan sejenak kesulitan dengan ikut merasakan rejeki yang diterima lewat dia. Makna untuk berbagi disini sangat kental, sehingga bisa mengikis rasa kecemburuan social antara si miskin dan si kaya.
Lalu apa hubungannya Hari Raya Kurban dengan korban perasaan, sepertinya tidak ada yang nyambung? He2.. Buat orang lain mungkin hal ini tidak ada kaitannya, tapi buat aku pribadi ini sangat erat. Karena seperti biasanya, sama layaknya tahun-tahun sebelumnya, Idul Adha kali ini juga, aku tetap berada di tempat mengembara. Rasa rindu semakin sesak di dada, bila ingat keluarga disana.
Aku harus merelakan indahnya kebersamaan untuk merelakan hari raya bersama orang-orang tercinta. Semua ini aku lakukan tentu untuk bisa menggapai asa dan cita. Inilah “Kurban” perasaan yang selalu alami saat hari raya. Tapi tak apalah toh ini semua untuk bisa membantu keluarga dan orang-orang tercinta. Aku bisa menjadi pribadi yang mandiri tanpa merepotkan lagi orang tua, bisa membantu ade untuk terus meneruskan cita-cita, bisa menjadi anak kebanggaan orang tua.
Dan terakhir tentu aku berharap bahwa “kurban” perasaanku saat ini dalam rangka untuk bisa membangun kepantasan agar mendapatkan seseorang yang akan menjadi teman untuk menua bersama, hidup setia dalam suka dan duka. Walaupun mungkin hidup sederhana dengan makan sepiring berdua dan tinggal digubuk derita (ah lebay.. kalau ini pasti terilhami dari lagu Hamdan ATT).
Salam Rindu buat orang-orang tercintaku disana.
TERNYATA GEMUK ITU……
Masih ingat dengan note yang pernah saya buat dengan judul “Mimpiku tertunda setahun lagi ” ??? Sedikit flash back tulisan itu bercerita tentang kesedihan seorang anak yang gagal memberikan kebahagiaan kepada ibunya dihari raya, untuk bisa mengenakan mukena baru saat sholat Idul Fitri. Baru tersadar, ternyata tulisan itu sudah berumur lebih dari 1 tahun, itu ditandai dengan aku bisa bertemu lagi dengan hari raya Idul Fitri di tahun berikutnya. Mimpi untuk membelikan mukena itu pada akhirnya tidak pernah kesampaian. Bahkan saat pulang lebaran kemarin pun, itu karena aku memang tidak sempat membelikannya, bahkan untuk nitip membelikan pun tak sempat. Sedikit ada perasaan trauma memang, takut nanti hilang lagi atau mengalami kondisi apes lagi, sehingga aku putuskan hanya memberi uang saja. Aku pikir itu satu-satunya oleh-oleh yang paling simple, tak merepotkan dan menyenangkan bagi hati penerimanya. Secara nominal cukuplah untuk membeli mukena 2 lusin mah he3…..
Lalu apa hubungannya dengan judul di atas ? Sepertinya tidak ada nyambung sedikit pun? Ya memang secara substansi tidak ada yang nyambung, persamaan hanya terletak pada waktu saat menulisnya yaitu saat suasana lebaran.
Terlihat jelas ada kebahagiaan teramat dalam yang bisa aku baca pancaran wajah ibu, saat menyambut anaknya datang. Matanya berbinar-binar, senyumnya merekah, sikap antusias terlihat alami tanpa basa-basi. Aku menangkap ada rasa haru, bangga, senang dan sedih dari gerak tubuh saat pertama kali bertemu. Rasa haru pasti ada, karena hampir 1 thn anaknya baru bisa pulang kampung lagi. Bangga karena anak laki-laki satu-satunya yang digadang-gadang bisa menggantikan peran alm bapaknya ternyata bisa berbuat banyak untuk keluarga. Senang karena lengkap sudah anaknya kumpul di rumah. Nah satu perasaan yang mengganjal yaitu rasa sedih, karena ternyata anaknya pulang dengan berat badan yang lebih besar dari yang dia bayangkan sebelumnya…he3
Dugaanku, itulah kenapa hobby masak ibu tiba-tiba hilang saat aku pulang. Masakan ibu yang katanya paling enak di dunia jadi semakin aku jarang jumpai di rumah, selain karena ibu sibuk dengan hajatan saudara dan tetangga, alasan yang paling mendasarnya pasti karena dia tidak ingin melihat anaknya bertambah berat badannya karena makan-makanan yang lezat dengan porsi sepuasnya. Sama seperti makan buah simalakama, saat ibu memasak, ada perasaan was-was dan khawatir kalau-kalau apa yang dimasaknya akan menambah buncit perut anaknya. Sehingga tak mengherankan, aku tak ubahnya seperti narapidana yang mendapat penjagaan extra ketat saat makan. Pernah suatu ketika aku sempat marah ke ibu, dan bicara sedikit ketus saat disuruh berhenti untuk makan, karena ibu sudah menganggap apa yang aku makan sudah cukup untuk porsi orang normal he3..
Aku sempat tak habis pikir, kenapa ibu terlalu mempermasalahkan berat badanku. Toh selama ini aku sendiri yang merasakannya tidak pernah terbebani, kecuali saat sedang maaf ”‘BAB” (sok singsireumeun ari nagog sue teuing mah…he3). Tak pernah ada perasaan minder sedikit pun dengan berat badan ini. Kalau pun ibu khawatir soal jodoh dan takut anaknya ga laku (saat itu), toh aku piker, aku lelaki yang bisa memilih siapapun (yang mau menerima pastinya), dan menyangkut pekerjaan, berat badan tak pernah menghambat, bahkan pencapaianku dalam karir bisa di bilang not bad ko, paling tidak untuk ukuran pemuda seumuranku di kampung, jelek-jelek gini aku sudah jadi supervisor, diusia yang relatif muda. Lalu apa lagi yang ibu khawatirkan dari berat badan ini, what wrong with my body mam… begitu gumamku.
Toh aku pun sudah terlanjur mendefinisikan yang namanya laki-laki itu bukan yang lebat ototnya, bidang perutnya, ganteng pasrasnya, tinggi badannya, keras suaranya, besar amarahnya, hebat berantemnya. Itu semua tak lebih dari definisi laki-laki versi kuli, yang hanya berdasarkan fisik semata. Buatku laki-laki itu, cukup menjadi seseorang yang berani bertanggung jawab, berani memikul beban hidup, dan tak lari dari kenyataan saat dihadapkan masalah, bisa menafkahi anak istrinya atau keluarganya serta berjuang keras dan tak pernah ada kata menyerah dalam meraih cita-cita yang diinginkannya.
Karena dalam perjalanannya, sering sekali aku menemui “laki2” yang secara fisik laki-laki banget, tapi sikap dan tindakannya tak ubahnya seperti pecundang. Tidak bertanggung jawab untuk memberi nafkah ke istrinya, masih merepotkan orang tua, tak berani berkomitmen serius, meninggalkan pacarnya tanpa alas an yang jelas, lari dari kesulitan dan masalah serta masih banyak lagi contoh lainnya.
Segudang justifikasi itulah yang membuat aku tidak pernah merasa bermasalah dengan kondisi berat badanku. Paradigma itu tertanam kuat diakar pikiranku, sampai pada akhirnya ada seseorang yang mengingatkanku lewat pesan pendeknya dengan bahasa yang lugas, sederhana, dan tegas. Kurang lebih seperti ini perkataannya “mungkin secara kasat mata, gemuk itu terlihat sukses dan bahagia, tapi dari sisi kesehatan itu tidak baik”. Tak langsung aku pahami maksud perkataan itu, sampai akhirnya aku menyadari bahwa memang ada yang salah dengan pemahamanku tentang berat badan, bahwa tidak ada yang dirugikan dari berat badanku itu absolute betul, karena saat pulang mudik naik mobil travel pun, tok aku bayar 2 kursi he3, tapi aku baru tersadarkan bahwa ternyata aku sudah merugikan diri sendiri, karena ternyata orang gemuk sangat mudah untuk mengundang penyakit datang. Yang artinya kalau itu benar terjadi…lantas seberapa lama aku bisa bertahan dengan kelaki-lakian versiku. Bila penyakit sudah menyerang, kondisi tak fit lagi, masihkah aku bisa jadi laki-laki sesuai mind set-ku .….Semoga pencerahan pemahaman ini tak terlalu terlambat datangnya, dan buat seseorang yang telah mengingatkan….aku ucapkan terima kasih….

