Hari ini tanggal 17 januari 2014. Aku sudah disibukan oleh istriku yang ternyata mengalami demam. Panasnya tidak turun-turun dari semalam, sehingga mengharuskan aku membawa dia ia dibawa ke dokter. Ini kali pertama membawa dia ke rumah sakit. Jujur aku memang sempat merasa kesal, karena tidak enak saja harus meninggalkan kantor, sedangkan pekerjaan rumah juga masih menyisakan cukup banyak.Blog ini berisi cerita-cerita ringan dari seorang guntur dalam menjalani hidup. Karena hidup adalah perjalanan dan Sukses yang besar dimulai dari langkah-langkah yang kecil.
17 Januari 2014
Istri Sakit
Hari ini tanggal 17 januari 2014. Aku sudah disibukan oleh istriku yang ternyata mengalami demam. Panasnya tidak turun-turun dari semalam, sehingga mengharuskan aku membawa dia ia dibawa ke dokter. Ini kali pertama membawa dia ke rumah sakit. Jujur aku memang sempat merasa kesal, karena tidak enak saja harus meninggalkan kantor, sedangkan pekerjaan rumah juga masih menyisakan cukup banyak.11 Januari 2014
Welcome 2014
![]() |
| Foto Prewedding |
23 Agustus 2013
Tak Ada Kata Jumawa
30 September 2012
Cabang Manado
Belum genap 5 bulan aku menetap di Pulau Sulawesi (Kota Manado), karena
alasan untuk untuk kepentingan perusahaan dan kebijakan manajemen, akhirnya aku
ditarik lagi ke Pulau Sumatra. Masih ingat betul padahal tanggal 20 April 2012,
saat pertama menginjakan kaki di Kota Manado. Sebuah kota yang kata sebagian
orang yang pernah kesana dan merasakan atmosfer-nya disebut-sebut kota yang
sangat nyaman dan ramah untuk dihuni.10 Desember 2011
ANTARA BERKURBAN DAN KORBAN PERASAAN
Selamat hari raya Idul Adha buat seluruh umat Islam yang sedang merayakannya. Semoga kita dapat memahami dan menangkap pesan moral dari apa yang dinamakan berkurban. Sejarah Idul Adha dimulai masa Nabi Ibrahim AS yang hidup ribuan tahun lalu diminta oleh Allah untuk menyembelih putra kesayangannya yaitu Nabi Ismail AS. Kepasrahan, ketaatan dan kecintaan kepada Sang Pencipta yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS dengan merelekan anak kesayangannya untuk “dikurbankan”.
Makna filosofis dari ibadah kurban terlihat dari simbolisasi Ismail sebagai sesuatu yang sangat dicintai, sesuatu yang berharga. Tapi harus direlakan untuk “dikurbankan” kepada Sang Maha Segala. Dalam kontek kekinian sesuatu yang berharga mungkin itu bisa dianalogikan dengan rumah megah, harta yang melimpah, perhiasan dan mobil yang mewah serta luasnya tanah.
Berkurban mengajarkan kita untuk tidak terlalu cinta dunia. Berapa pun banyak harta yang kita punya toh akhirnya tidak akan dibawa mati. Seperti pepatah gajah mati hanya meninggalkan gadingnya, harimau mati meninggalkan belangnya, nah kalau manusia mati hanya meninggalkan nama baik dan amal ibadahnya selama dia hidup. Dengan berkurban kita diajari bagaimana merelakan apa yang kita cintai, dalam hal ini bersifat keduniawian, yang dalam hal ini disimbolkan oleh hewan kurban untuk dibagi-bagikan kepada yang membutuhkan.
Makna lain dari berkurban adalah mengajarkan kita untuk selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Tuhan. Dengan berkurban merupakan wujud syukur kita atas rejeki yang sudah diberikan Tuhan, sehingga akhirnya kita bisa membantu orang yang tidak mampu untuk melupakan sejenak kesulitan dengan ikut merasakan rejeki yang diterima lewat dia. Makna untuk berbagi disini sangat kental, sehingga bisa mengikis rasa kecemburuan social antara si miskin dan si kaya.
Lalu apa hubungannya Hari Raya Kurban dengan korban perasaan, sepertinya tidak ada yang nyambung? He2.. Buat orang lain mungkin hal ini tidak ada kaitannya, tapi buat aku pribadi ini sangat erat. Karena seperti biasanya, sama layaknya tahun-tahun sebelumnya, Idul Adha kali ini juga, aku tetap berada di tempat mengembara. Rasa rindu semakin sesak di dada, bila ingat keluarga disana.
Aku harus merelakan indahnya kebersamaan untuk merelakan hari raya bersama orang-orang tercinta. Semua ini aku lakukan tentu untuk bisa menggapai asa dan cita. Inilah “Kurban” perasaan yang selalu alami saat hari raya. Tapi tak apalah toh ini semua untuk bisa membantu keluarga dan orang-orang tercinta. Aku bisa menjadi pribadi yang mandiri tanpa merepotkan lagi orang tua, bisa membantu ade untuk terus meneruskan cita-cita, bisa menjadi anak kebanggaan orang tua.
Dan terakhir tentu aku berharap bahwa “kurban” perasaanku saat ini dalam rangka untuk bisa membangun kepantasan agar mendapatkan seseorang yang akan menjadi teman untuk menua bersama, hidup setia dalam suka dan duka. Walaupun mungkin hidup sederhana dengan makan sepiring berdua dan tinggal digubuk derita (ah lebay.. kalau ini pasti terilhami dari lagu Hamdan ATT).
Salam Rindu buat orang-orang tercintaku disana.
TERNYATA GEMUK ITU……
Masih ingat dengan note yang pernah saya buat dengan judul “Mimpiku tertunda setahun lagi ” ??? Sedikit flash back tulisan itu bercerita tentang kesedihan seorang anak yang gagal memberikan kebahagiaan kepada ibunya dihari raya, untuk bisa mengenakan mukena baru saat sholat Idul Fitri. Baru tersadar, ternyata tulisan itu sudah berumur lebih dari 1 tahun, itu ditandai dengan aku bisa bertemu lagi dengan hari raya Idul Fitri di tahun berikutnya. Mimpi untuk membelikan mukena itu pada akhirnya tidak pernah kesampaian. Bahkan saat pulang lebaran kemarin pun, itu karena aku memang tidak sempat membelikannya, bahkan untuk nitip membelikan pun tak sempat. Sedikit ada perasaan trauma memang, takut nanti hilang lagi atau mengalami kondisi apes lagi, sehingga aku putuskan hanya memberi uang saja. Aku pikir itu satu-satunya oleh-oleh yang paling simple, tak merepotkan dan menyenangkan bagi hati penerimanya. Secara nominal cukuplah untuk membeli mukena 2 lusin mah he3…..
Lalu apa hubungannya dengan judul di atas ? Sepertinya tidak ada nyambung sedikit pun? Ya memang secara substansi tidak ada yang nyambung, persamaan hanya terletak pada waktu saat menulisnya yaitu saat suasana lebaran.
Terlihat jelas ada kebahagiaan teramat dalam yang bisa aku baca pancaran wajah ibu, saat menyambut anaknya datang. Matanya berbinar-binar, senyumnya merekah, sikap antusias terlihat alami tanpa basa-basi. Aku menangkap ada rasa haru, bangga, senang dan sedih dari gerak tubuh saat pertama kali bertemu. Rasa haru pasti ada, karena hampir 1 thn anaknya baru bisa pulang kampung lagi. Bangga karena anak laki-laki satu-satunya yang digadang-gadang bisa menggantikan peran alm bapaknya ternyata bisa berbuat banyak untuk keluarga. Senang karena lengkap sudah anaknya kumpul di rumah. Nah satu perasaan yang mengganjal yaitu rasa sedih, karena ternyata anaknya pulang dengan berat badan yang lebih besar dari yang dia bayangkan sebelumnya…he3
Dugaanku, itulah kenapa hobby masak ibu tiba-tiba hilang saat aku pulang. Masakan ibu yang katanya paling enak di dunia jadi semakin aku jarang jumpai di rumah, selain karena ibu sibuk dengan hajatan saudara dan tetangga, alasan yang paling mendasarnya pasti karena dia tidak ingin melihat anaknya bertambah berat badannya karena makan-makanan yang lezat dengan porsi sepuasnya. Sama seperti makan buah simalakama, saat ibu memasak, ada perasaan was-was dan khawatir kalau-kalau apa yang dimasaknya akan menambah buncit perut anaknya. Sehingga tak mengherankan, aku tak ubahnya seperti narapidana yang mendapat penjagaan extra ketat saat makan. Pernah suatu ketika aku sempat marah ke ibu, dan bicara sedikit ketus saat disuruh berhenti untuk makan, karena ibu sudah menganggap apa yang aku makan sudah cukup untuk porsi orang normal he3..
Aku sempat tak habis pikir, kenapa ibu terlalu mempermasalahkan berat badanku. Toh selama ini aku sendiri yang merasakannya tidak pernah terbebani, kecuali saat sedang maaf ”‘BAB” (sok singsireumeun ari nagog sue teuing mah…he3). Tak pernah ada perasaan minder sedikit pun dengan berat badan ini. Kalau pun ibu khawatir soal jodoh dan takut anaknya ga laku (saat itu), toh aku piker, aku lelaki yang bisa memilih siapapun (yang mau menerima pastinya), dan menyangkut pekerjaan, berat badan tak pernah menghambat, bahkan pencapaianku dalam karir bisa di bilang not bad ko, paling tidak untuk ukuran pemuda seumuranku di kampung, jelek-jelek gini aku sudah jadi supervisor, diusia yang relatif muda. Lalu apa lagi yang ibu khawatirkan dari berat badan ini, what wrong with my body mam… begitu gumamku.
Toh aku pun sudah terlanjur mendefinisikan yang namanya laki-laki itu bukan yang lebat ototnya, bidang perutnya, ganteng pasrasnya, tinggi badannya, keras suaranya, besar amarahnya, hebat berantemnya. Itu semua tak lebih dari definisi laki-laki versi kuli, yang hanya berdasarkan fisik semata. Buatku laki-laki itu, cukup menjadi seseorang yang berani bertanggung jawab, berani memikul beban hidup, dan tak lari dari kenyataan saat dihadapkan masalah, bisa menafkahi anak istrinya atau keluarganya serta berjuang keras dan tak pernah ada kata menyerah dalam meraih cita-cita yang diinginkannya.
Karena dalam perjalanannya, sering sekali aku menemui “laki2” yang secara fisik laki-laki banget, tapi sikap dan tindakannya tak ubahnya seperti pecundang. Tidak bertanggung jawab untuk memberi nafkah ke istrinya, masih merepotkan orang tua, tak berani berkomitmen serius, meninggalkan pacarnya tanpa alas an yang jelas, lari dari kesulitan dan masalah serta masih banyak lagi contoh lainnya.
Segudang justifikasi itulah yang membuat aku tidak pernah merasa bermasalah dengan kondisi berat badanku. Paradigma itu tertanam kuat diakar pikiranku, sampai pada akhirnya ada seseorang yang mengingatkanku lewat pesan pendeknya dengan bahasa yang lugas, sederhana, dan tegas. Kurang lebih seperti ini perkataannya “mungkin secara kasat mata, gemuk itu terlihat sukses dan bahagia, tapi dari sisi kesehatan itu tidak baik”. Tak langsung aku pahami maksud perkataan itu, sampai akhirnya aku menyadari bahwa memang ada yang salah dengan pemahamanku tentang berat badan, bahwa tidak ada yang dirugikan dari berat badanku itu absolute betul, karena saat pulang mudik naik mobil travel pun, tok aku bayar 2 kursi he3, tapi aku baru tersadarkan bahwa ternyata aku sudah merugikan diri sendiri, karena ternyata orang gemuk sangat mudah untuk mengundang penyakit datang. Yang artinya kalau itu benar terjadi…lantas seberapa lama aku bisa bertahan dengan kelaki-lakian versiku. Bila penyakit sudah menyerang, kondisi tak fit lagi, masihkah aku bisa jadi laki-laki sesuai mind set-ku .….Semoga pencerahan pemahaman ini tak terlalu terlambat datangnya, dan buat seseorang yang telah mengingatkan….aku ucapkan terima kasih….
18 Februari 2011
AKU MERASA KEHILANGAN SEMUANYA
Lebaran idul fitri kemarin (2010), bagiku hanya menyisakan luka. Runtutan peristiwa yang terjadi memaksa menghadapkan aku pada sebuah pengertian akan makna kehilangan. Dimulai dari oleh-oleh berupa mukena, kado special yang sengaja aku beli untuk ibu tercinta. Benda yang sengaja aku bawa untuk oleh-oleh lebaran, sirna begitu saja sebelum sampe pada yang empunya. Belum sembuh luka akan kehilangan mukena, aku harus kehilangan hanphone yg cukup menyimpan banyak kenangan juga. Hanphone itu begitu berarti, karena itulah hape pertama yang aku beli, yang sudah bisa menggunakan fasilitas kamera. Aku beli saat audit pt pusri di Palembang.
Sesampainya di rumah, selain badan yang terasa lemas, mata juga sudah pering, ingin rasanya aku tidur, dan balas dendam, akibat kurang tidur diperjalanan. Tapi karena ada permintaan dari dia untuk langsung menemuinya, aku paksakan untuk datang menemui kekasih hati, yang memang, tempat kerjanya tidak jauh dari rumahku. Dan aku tak menyangka, kalau ternyata itupun akan jadi pertemuanku terakhir dengannya. Karena akhirnya kisah cinta ini pun harus kandas. Perpisahan itu sampai sekarang hanya menyisakan luka. Impian aku, untuk membina keluarga bahagia bersamanya, kandas begitu saja. Itu artinya, aku kehilangan seseorang yang selama ini menghiasi dan menemani hari-hariku. Jadi dikalkulasikan secara matematis, itu artinya dalam satu rangkaian peristiwa, aku kehilangan tiga hal yang penting saat lebaran kemarin.
Kehilangan ataupun perpisahan, apapun ceritanya dan bagaimanapun kondisinya, selalu menyisakan luka. Masih ingat betul, bagaimana luka itu sempat mengoyak hati begitu dalam. Saat aku harus dihadapkan takdir, untuk kehilangan Ayah yang selama ini jadi panutan. Tak mudah untuk membiasakan diri, hidup tanpa bimbingan dan arahan dari seorang Ayah. Sampai pada akhirnya, aku dipaksa untuk membiasakan diri, bergantung pada kekuatan diri. Proses itupun tak mudah, bahkan sampai sekarang pun, saat dimana sudah 6 tahun lamanya alm. meninggalkanku, adakalanya aku mengharapkan keajaiban itu tiba, sosok alm hadir kembali, dan menjadi tameng dan pembela terdepan saat aku merasa lemah dan kalah.
Sekarang, saat usiaku sudah cukup matang untuk ke menuju ke pelaminan. Ada perasaan gamang di hati. Tak tahu kenapa, hati ini kok rasanya belum iklas dengan perpisahan kemarin. Rasanya hanya dia satu2nya wanita yang bisa buat hati ini bahagia. Hanya dia satu2nya wanita yang sesuai dengan kriteria. Walaupun kadang, aku sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa antara kita sudah banyak perbedaan. Rasanya, kalau kisah cinta ini dilanjutkan, yang ada hanya cerita duka. Perbedaan keluarga, jarak, dan seabrek perbedaan yang lain. Rasanya cukup sulit untuk dicari solusi dari semua masalah itu. Tapi entah kenapa, alam bawah sadar ini selalu dia, dia dan dia yang terpikirkan. Mungkin karena belum adanya orang baru masuk, yang bisa memikat hati atau karena alam bawah sadar itu yang menyimpan begitu hebatnya memori. Sampai-sampai aku masih disandera oleh perasaan tak mau kehilangan.
Tuhan….aku tahu kalau aku memang sering mengabaikan perintahmu. Walaupun bukan niatku untuk menyengajakan itu. Atau bukan pula karena aku sudah tak memuja-Mu. Tapi untuk kali ini, tolong bantu aku. Sembuhkan aku dari perasaan ini. Hidupku harus lebih besar dari ini. Aku tak mau hal kecil ini bisa mengganggu cita-citaku yang besar. Jangan biarkan ini menghalangi aku untuk mendapatkan hal-hal besar yang mungkin kelak akan aku dapatkan…..Tuhan beri aku kekuatan…beri aku kekuatan untuk melupakannya….klo memang dia jodohku…..dekatkan kembali aku dengannya….tapi klo memang bukan, jangan biarkan aku tersiksa dengan perasaan ini terus menerus….
01 Januari 2011
Depok - Pekanbaru
Banyak perasaan bercampuradukan yang saat ini dirasakan. Senang pasti, karena aku pindah dipromosikan, itu artinya, kalau dalam permainan aku sedang naik level. Cemas juga menghinggapi rasa ini. mengingat butanya medan yang akan dihadapi nantinya. Sedih ikut juga menyertai kepergian, jauh dari keluarga, teman dan saudara yang selama ini menemani hari-hariku.
Aku tak tahu, angin apa yang menyebabkan aku bisa sampai kota itu. Mungkin perasaan sendiri akan aku rasakan sesaat sampai disana. Sama seperti dulu aku rasakan saat memulai singgah di tempat baru.
Semoga adaptasiku tak berlangsung lama. Dan aku bisa cepat klik dengan smuanya disana. Entah aku titipka kepada siapa rasa rindu ini...Semoga ini jalan yang tepat, untuk aku menuju kesuksesan....Amien...
13 November 2010
Hatiku Remuk Redam
Berbagai kejadian yang menimpaku akhir-akhir ini membuat aku kalang kabut. Beban kesibukan kerja yang selama ini menemaniku tiap hari, kini harus ditambah dengan beban yang lain yang menimpa aku dan keluarga.Bermula dari berakhirnya hubungan asmaraku dengan wanita yang selama ini aku gadang-gadangkan akan menjadi pelabuhan terakhirku. Rasa itu terlalu dalam tertanam, sampai aku tersadarkan bahwa aku mungkin tak cukup pantas untuk bersamanya, setelah smua yang aku lakukan kepadanya.
Belum lagi masalah itu reda, aku harus dihadapkan kenyataan pahit yang menimpa keluargaku. Keputusan Ibu untuk menikah lagi sontak membuatku kaget. Aku pikir, selama ini, tidak ada figur lain yang bisa menggantikan sosok Alm Apa (bapak) di hatinya. Tapi mungkin kesusahan dan kesendirian yang sudah menahun berkata lain, dan menjadi stimulus yang ampuh untuk melahirkan keputusan itu muncul.
Sebenarnya kalau hanya keputusan menikah itu sih aku bisa menerimanya, karena aku sadar sesadar-sadarnya klo ibu tidak bisa sendiri untuk melanjutkan hidup. Karena suatu saat nanti aku, anaknya ini pasti akan meningggalkannya untuk membentuk kehidupan yang baru, begitu juga dengan ade-ku, suatu saat nanti pasti dia dipinang oleh lelaki yang akan membawanya ke sebuah keluarga baru juga. Yang tertinggal hanya ibu sendiri, tentu sebagai anak pun aku tidak ingin menyaksikan ibu menua bersama kesendirian dan kesedihannya. Harus ada orang yang disampingnya, yang bisa menjaganya dan melindunginya dari segala mara bahaya.
Tak salah jika keputusan itu hadir di saat-saat sekarang, saat dimana anak-anaknya sudah beranjak dewasa. Aku sebagai anak lelaki, sudah mulai bisa menapaki dan menjalani karir dalam kerjaan. Serta ade-ku yang sudah menginjak usia dewasa, sudah mengenal arti cinta, dan tak bisa dianggap belia. Maka keputusan itu aku pikir sangat rasional dan masuk akal, serta bisa diterima oleh siapapun.
Masalahnya, orang yang jadi pilihan yang ibu yang kurang sreg bagi kami. Tidak hanya buatku, sebagai anaknya, yang kelak harus memanggil bapak kepadanya. Tapi juga keluarga besar yang hampir smuanya tidak menyetujui. Bukan karena materi atau harta yang jadi ukuran, tapi ada satu hal yang tidak bisa aku ceritakan disini, yang membuat siapapun akan berat untuk menerimanya.
Aku tidak tahu, apakah kerasnya penolakanku terhadap rencananya, bisa dianggap benar. Niat aku hanya ingin mengingatkan kepada ibu, bahwa kali ini tindakannya tidak tepat. Selama ini aku diajarkan kebaikan dan kebajikan hidup oleh ibu. Nilai-nilai yang selama ini aku anut dan diamalkan pun tidak jauh dari wejangan ibu. Rasanya nasehat itu tak henti-hentinya meluncur dari mulut ibu, yang mengajari kami tentang nilai kebaikan dalam hidup.
Sekarang, ketika anakmu ini brontak, bukan berarti aku melawan dan membangkan dengan smua keputusanmu. Dan sama sekali tak ada niat sedikitpun untuk durhaka padamu. Aku hanya mengingatkan, tentang semua ajaran kebaikan yang telah ibu tanamkan, dan rasanya apa yang telah ibu putuskan, jauh dari nilai-nilai wejangan yang selama ini ibu ajarkan kepada kami.
Ibu mengajarkan kami untuk menjaga sikap, berbuat baik ke semua orang, tidak menyakiti orang dan pintar merasa, bukan merasa pintar. Sikap empati terhadap kesusahan orang, dan bersyukur terhadap smua yang sudah kita dapatkan, tanpa pernah berpikir klo rumput tetangga lebih hijau. Rasanya wejangan itu masih terngiang keras ditelinga dan telah tersimpan rapat di hati ini.
So..sekarang aku pasrah...sebagai anak, aku lakukan semampuku. Apapun keputusannya, ibu akan tetap menjadi ibuku. Wanita yang telah melahirkanku ke dunia. Wanita yang aku puja bagai dewa. Wanita yang menjadi alasanku, kenapa aku tetap smangat menjalani hidup, semenjak kepergian ayah. Aku hanya berharap, akan ada sedikit tersisa ruang dihati dan pikiranmu, sehingga ibu bisa berpikir dengan jernih bahwa keputusan itu completely wrong mam....
18 September 2010
MIMPIKU TERTUNDA SETAHUN LAGI
Sore itu sengaja aku pulang cepat dari kantor, jam dinding masih menunjukan pukul 3 sore, saat dimana biasanya aku masih sibuk dengan rutinitas kerjaanku sehari-hari. Sedikit aga tergesa aku pacu kendaraan roda duaku, agar cepat sampe ke kosan. Saat itu memang hari terakhir aku kerja, sebelum liburan lebaran tiba. Banyak perasaan berkecamuk saat itu. Ada rasa senang, bahagia dan antusias karena akan pulang mudik lebaran dan bertemu dengan keluarga dan saudara di kampong. Ada juga perasaan malas, bila ingat perjalanan yang akan ditempuh.Sebelum keberangkatan menuju pangkalan travel yang biasa digunakan, aku cek dulu semua barang2 yang akan aku bawa pulang. Dari mulai baju, celana, laptop, buku dll, semua aku cek satu persatu. Tak ketinggalan pula terselip oleh2 yang special buat ibuku tercinta. Sebuah mukena cantik yang sengaja aku beli dari Pasar tanah Abang. Mukena yang akan jadi oleh2 teristimewa, karena selain ibu memang menginginkannya, untuk sebuah oleh2 barang itu sangat bermanfaat, begitu pikirku saat itu.
Dalam perjanan yang dibumbui dengan kemacetan khas mudik lebaran. Sulit bagiku untuk memejamkan mata barang sebentar saja. Sambil sesekali aku menolehkan muka ke plastik hitam berisi mukena, sengaja aku tidak masukan ke dalam tas, karena selain sudah tidak muat, aku inginkan mukena itu barang yang langsung aku tunjukan saat sampai di rumah nanti.
Sekitar jam 5.30 pagi, mobil yang membawa rombonganku pulang sudah sampe di tanjung (red : daerah brebes yang berbatasan dengan losari). Karena ada kelainan pada mobil, akhirnya rombongan rehat dulu, sambil menunggu mobil diperbaiki. Dua jam waktu berlalu, mobil itu tak menunjukan tanda-tanda akan berangkat. Dengan perasaan yang sedikit kesal, akhirnya aku putuskan untuk naik ojeg saja, pikirku biar cepat sampai ke rumah. Tak sulit buatku mendapatkan tukang ojeg, karena begitu aku turun pun mereka sudah menghampiriku, seperti semut yang menghampiri gulanya…he3…
Perjalanan menuju rumah, aku tempuh dengan naik ojeg, disepanjang perjalanan aku isi dengan percakapan dengan Tukang ojegnya, sembari menikmati segarnya udara dan hijaunya pohon di sepanjang jalan. Perjalanan itu begitu aku nikmati, sampai akhirnya perasaan itu terhenti saat Tukang Ojeg itu menanyakan ada berapa plastik yang menggantung disamping motornya. Aku jawab ada dua, yang satu berisi mukena dan satunya lagi berisi makanan. Dan betapa kagetnya aku ketika mengetahui kenyataan bahwa plastik yang menggantung di motor itu tinggal satu, dan yang tersisa hanya plastik yang berisi makanan…..
Seketika itu perasaanku sudah mulai gundah, saat dimana aku menyadari kalau mukena, oleh2 yang sengaja aku bawa ternyata telah tiada. Ada perasaan hampa dan malas untuk melanjutkan sisa perjalanan, aku begitu kesalnya, cuma bingung mau aku tumpahkan ke siapa rasa kesal itu. Menyalahkan tukang ojeg pun jelas tak ada gunanya, karena belum tentu barang itu akan kembali lagi.
Sesampainya di rumah, aku cium tangan ibuku, lalu terdiam dan termangu….Belum lagi sempat ibu bertanya, aku sudah langsung minta maaf dan bercerita kalau mukena yang aku bawa itu jatuh dalam perjalanan pulang. Saat itu ibu hanya bisa berkata, ‘ya sudahlah, yang penting kamu selamat”. Namun perkataan itu seperti itu tetap saja belum melegakan hatiku.
Kekecewaan itu semakin memuncak saat hari raya tiba, dalam hati, jujur tak kuasa aku menahan haru, mendapati kenyataan kalau kalau mukena itu telah hilang. Aku melihat layu pada ibuku yang memakai mukena lamanya untuk sholat dihari raya. Saat itu aku bergumam lirih dalah hati…Ya Tuhan..mimpiku tertunda setahun lagi…..
