Wellcome To My Blog

HIDUP INI INDAH ANDAI KAU TAHU JALAN MANA YANG BENAR

28 Juni 2009

Ga terasa adeku dah mau sekolah

Masih terekam jelas dimemoriku ingatanku. Ketika pertama aku mau “hijrah” dari rumah untuk pergi ke perantauan. Kala itu aku ingat betul bahwa aku cukup antusias untuk menghadapi kondisi ini. Beberapa aku persiapkan untuk menyambut masa itu tiba. Aku harus meninggalkan kampung halamanku untuk mencari ilmu dan meneruskan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Karena cukup jauh, dan ga ada SMA disekitar tempatku yang cukup mumpuni untuk bisa menampung hasratku bersekolah, akhirnya aku bersekolah di kota kabupaten (baca : Brebes).

Memori itu masih tersimpan betul ketika akan memulai hidupku yang baru kala itu. Hidup jauh dengan orang tua jelas membuat aku dituntut untuk bisa hidup mandiri dan bisa memanajemen keuangan sendiri. Banyak rasa bercampur aduk waktu itu, yang pasti hari-hariku pertama diisi dengan silaturahmi kepada teman-teman sedaerahku. Paling tidak ini bisa sedikit menghilangkan rasa sedihku karena harus meninggalkan banyak kenangan, bertemu mereka juga berarti bisa menunjukan bahwa aku tidak sendirian dalam menghadapi kehidupan yang baru ini.

Tentu aku beruntung kala itu karena, untuk urusan daftar-daftar sekolah, aku tidak terlalu memusingkannya. Ada Bapak (alm) yang bisa menemani untuk urusan mencari sekolah yang baru. Kalau pun waktu itu ada yang aku khawatirkan yaitu karena nilai ujianku untuk masuk sekolah favorit di Brebes agak mepet. Cukup gelisah juga waktu itu, untuk sampai menunggu kepastian bahwa aku diterima disekolah itu. Bagiku sekolah favorit itu seolah harga mati yang harus aku dapatkan untuk bisa membuat bapak dan ibuku bisa berdiri tegak dan bisa tetap bercerita banyak tentang anak mereka kepada teman-temannya pada saat ada acara-acara tertentu. Tentu hal ini sangat bisa aku maklumi karena bagi orang tua, anak merupakan kebanggan yang bisa mereka ceritakan kepada teman atau siapapun yang mereka ajak berbicara.

Sekarang sudah sembilan tahun waktu itu berlalu. Sungguh sangat tak terasa bagiku waktu selama itu. Sampai pada akhirnya aku tersadarkan ketika adeku mau sekolah pada jenjang yang sama dengan aku. Cuma sangat disayangkan bila ingat bahwa Bapak tidak bisa menemani dia seperti ketika dia menemaniku dulu. Bila ingat hal itu jelas sangat menyesakan hati dan akan membuka luka lama yang belum pulih sepenuhnya. Andai pikiran ini terpelihara terus pasti hanya menyisakan penyesalan, kekecewaan dan penyalahan, kenapa Bapak diambil dengan begitu cepat. Hanya akan ada air mata yang tersisa dan luka yang semakin menganga.

Sembilan tahun sudah setelah aku masuk sma, ternyata tugas Bapak waktu itu harus aku ambil alih. Jelas menyekolahkan adeku sampai ke jenjang perguruan tinggi bukan perkara mudah. Maka dari itu aku harus ambil tugas itu dengan senang hati, sembari berharap diberi kekuatan untuk bisa menyekolahkan adeku bersama ibuku. Aku harus kuat, aku harus tegar dan aku harus super. Aku berharap akan selalu ada jalan yang diberikan Tuhan untuk ini, aku ingin menjalani hidup ini dengan ringan, aku ingin mengambil porsi yang bisa aku lakukan. Selebihnya aku serahkan semuanya ke Tuhan. Karena aku ingat betul apa yang diucapkan Mario Teguh bahwa “ kalau seorang anak yang masih mempunyai orang tua, maka tanggungan atas rejekinya dibawah orang tua. Tapi kalau anak itu sudah tidak ada orang tua, maka yang menanggung rejekinya langsung dari Tuhan.” Semoga benar ucapan itu, sehingga aku hanya bisa berusaha dengan maksimal, sampai pada akhirnya aku bisa menjadi jalan bagi Tuhan untuk menurunkan rejekinya pada adeku dan juga pada keluargaku…Amien

23 Juni 2009

Aku menikmati setiap proses yang dialami

Perjalanan hidup yang aku jalani membawa aku pada beberapa situasi sulit yang harus ku hadapi. Beberapa kali aku aku menghadapi dan mengalami sesuatu yang baru dalam hidup. Dari perjalanan folmal dalam sekolahan sampai dengan dunia non formal yang tak kalah menariknya. Pengetahuan dan keterampilanku aku mulai tentu ketika aku masih kecil dulu, saat aku dduduk di bangku sekolah dasar. Saat itu aku mulai belajar membaca, menulis dan berhitung. Dalam kehidupan sehari-haripun aku memulai mengenal teman yang bisa aku ajak bermain, bercanda, dan berpetualang.

Belajar Berbicara
Sampai akhirnya aku sudah menjadi sebesar ini, aku merasa beruntung karena dibekali banyak kemampuan yang harus dikembangkan. Pas awal kuliah, aku ingin sekali bisa belajar berbicara di depan umum. Ga tau kenapa selalu ada kesulitan bagiku untuk bisa berkoar dihadapan banyak orang. Sedikit sekali keberanianku saat itu untuk bisa bicara di depan orang banyak, padahal kata bapak ku dulu siy pas aku kecil sering ngoceh dan juga sering nyanyi tanpa ada rasa malu.

Entah bagaimana caranya waktu itu, tiba-tiba saja aku kenal dengan seseorang, dan karena dia itu pula akhirnya aku diajak join untuk ikut organisasi. Saat itulah petualanganku dimulai, untuk tujuan bisa berbicara, aku memulainya dari forum kecil. salah satunya ketika rapat bidang, rapat internal. Petualanganku dalam berbica merambah ketika ada rapat pengurus, aku beranikan diri untuk berbicara. Seminar-seminar yang aku ikutin pun tidak aku lepaskan untuk bertanya agar kemampuanku bisa bertambah. Tentu klimak dari usahaku untuk belajar berbicara ketika aku didaulat untuk menjadi ketua himpunan. Saat itulah aku "dipaksa" untuk terus berbicara dengan banyak orang yang ditemui.

Belajar Menulis
Tapi sangat disayangkan kalau aku ingat masa itu, sebagai ketua suatu himpunan, aku sudah cukup mampu memberikan ide-ide ku secara lisan. Tapi aku miskin sekali dalam hal penyampaian ide secara tulisan. Temanku pernah berkata dengan nada sindiran "masa ketua kok ga bisa nulis". Kata-kata itu masih terngiang dibenaku, dan hal itu aku jadikan tekad agar aku bisa menulis suatu saat nanti.

Pengembaraanku waktu kuliah membawa aku ke sebuah tempat di tegal. Aku hampir 2 bulan menjadi pegawai musiman salah satu lembaga pendidikan. Tepatnya tahun 2007 awal, aku memulai mengenal blog. Sore hari ketika aku tanpa sengaja jalan2 ke sebuah mall di tegal, aku membaca beberapa buku. Dan salah satu buku yang aku baca adalah bagaimana membuat blog dengan mudah. Singkat cerita aku akhirnya punya juga sebuah blog, dan dengan sedikit bantuan teman2 di mahasiswa di tempatku bekerja waktu itu (baca : LP3I Tegal) aku punya blog yang cukup representatif untuk bisa menulis apapun.

Aku isi blog itu dengan beberapa pemikiran yang menjadi nilai-nilai yang aku pegang dalam kehidupan. Setiap ada sesuatu yang aku pikirkan tentang suatu hal dalam kehidupan, pasti aku menyimpannya di blog. Aku akhirnya bisa mengevaluasi setiap tulisanku dari waktu ke waktu, dan aku coba perbaiki kira-kira apa yang kurang dari tulisanku.

Sekarang ketika sudah lebih dari 2 tahun aku punya blog, aku merasa bisa lebih mengungkapkan apa yang aku pikirkan lewat bahasa tulisan. Dan kadang ketika aku berpikir lagi, kadang tidak aku sangka-sangka ada tulisanku yang bisa dimuat disalah satu situs terkenal. Tentu apa yang aku lakukan belum seberapa, karena ada keinginan besar bahwa suatu saat nanti aku bisa menulis buku untuk memberikan pencerahan pada banyak orang. Aku berharap aku bisa mencapainya...amien

Belajar Berwirausaha
Satu hal lagi yang sedang aku geluti saat ini adalah belajar jadi entrepreneur. Sebenarnya sudah lama keinginan itu ada, cuma sayang baru sekarang aku bisa merealisasikannya. Aku berpikir bahwa untuk kita bisa berwirausaha tidak semudah yang kita kira. Karena di dalamnya banyak kesulitan yang harus kita hadapi. Dan aku berharap bisa aku bisa banyak belajar dari itu semua.

Akhirnya aku beranikan diri untuk buka lapak di pasar kaget depok. Untuk ada teman dekatku yang punya satu visi dalam memandang hal ini. Semoga ini jadi awalan buat aku untuk bisa lebih peka dalam melihat setiap peluang yang datang, untuk bisa dimanfaatkannya. Tentunya semoga ceritaku dalam belajar tidak berhenti disini, karena banyak hal yang ingin aku raih.....(cerita bersambung...)



05 Mei 2009

Terpujilah Wahai Engkau...


"Terpujilah wahai engkau
ibu bapak guru
namamu akan selalu hidup
dalam sanubariku
bagai prasasti terima kasihku
tuk pengabdianmu"

Penggalan lirik lagu himne guru itu terdengar begitu menggetarkan jiwaku, tak sengaja aku dengar ketika lagi noton acara disalah satu stasiun tv. Program itu di gelar kayanya untuk memperingahti hari pendidikan nasional yang tepat jatuh pada hari tersebut. Itu aku tahu dari beberapa penonton yang hadir kebanyakan guru. Bukan hardiknas nya yang ingin aku bahas, tapi untaian kata yang ada dilirik tersebut yang ingin aku kupas.

Memoriku tiba-tiba melayang kembali pada saat-saat alm Bapak ku masih ada. Kebetulan profesi dia juga guru. Bagi dia profesi guru sangat membanggakan. Hal ini tentu sangat wajar bila mengingat bahwa dia dibesarkan dari keluarga biasa yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk mencari sesuap nasi. Bagi kami sekeluarga status bapak waktu itu yang hanya jadi guru SD tetap menjadi anugerah yang tak terkira. Walaupun waktu itu upah dari bapak mengajar tidak sebesar sekarang.

Di masa hidupnya, slalu saja ada nasehat yang dia tularkan untuk bisa menjadi pengertian bagi kami, sering sekali dia berucap bahwa jadi guru itu adalah pengabdian, dan pengabdian tidak pernah bisa diukur dengan apapun. Ketika aku mengadu tentang teman main yang punya banyak mainan dan sering jajan. Dia menjawab dengan tenang bahwa hidup tidak harus kita selalu memandang ke atas, sekali-kali kita melihat ke bawah. Karena masih banyak orang yang taraf hidupnya jauh lebih rendah dibanding kita. Dan terakhir biasanya dia tutup dengan bahasa ala manajemen barat, yaitu menjanjikan adanya manajemen perubahan yang disertai dengan harapan. Dengan penuh yakin dia berucap bahwa sebentar lagi kesejahtraan guru/PNS akan terjamin. Ah kalau sudah itu jawabannya biasanya aku hanya bisa menelan kekesalan dan mengumpat kalau aku jangan sampai jadi pegawai negeri.

Baru 4 tahun berlalu setelah Bapak ku meninggal, semua ucapannya terbukti. Kalau kita lihat sekarang bahwa kesejahtraan Pegawai Negeri Sipil sudah mulai diperhatikan. Dan dari berbagai aspek pun semua terihat lebih baik. Melihat kondisi ini tak jarang ibu sering kesal dan mengumpat pemerintah sekarang yang lebih perhatian. “Kenapa tidak dari dulu perbaikan ini dilakukan saat Bapak masih ada ???”, begitu gerutunya. Aku cukup memahami perasaan ibu, maklum sudah cukup lama dia mendampingi bapak, dari mulai sangat susah, lumayan susah, sampai sedikit susahnya terus bersama. Luka itu semakin menganga bila melihat teman seangkatan bapak yang keliatan lebih sejahtera sekarang, selalu ada perasaan iri ditambah berandai-andai kalau bapak masih ada, pasti hidup kita jauh lebih baik daripada mereka sekalipun.

Bagiku apa yang dilakukan Bapak dulu, itulah yang dinamakan pengabdian, suatu sikap untuk memberikan kemampuan terbaik yang kita miliki untuk disumbangkan kepada negara. Pada dataran itu mungkin Bapak ku dulu sudah bisa memahami ucapan Presiden Amerika John F Kennedy yaitu “ Jangan bertanya apa yang bisa Negara berikan buat kita, tapi bertanyalah kita bisa memberi apa buat negara”. Makanya ketika sekarang banyak yang berbondong-bondong masuk PNS, mungkin bapak ku akan tersenyum kecut di alam sana. Ada orang yang ingin mengabdi karena dia tahu berapa banyak yang akan dia dapatkan. Bagiku apa yang dilakukan oleh Bapak dulu, itu yang membuat aku bangga akan Beliau. Kesetiaan dia sangat teruji ketika berada dalam kesusahan, walaupun dia belum sempat mengecap manisnya naik gaji yang besar. Tapi itu tidak mengurasi semangat dan antusias dia dalam mendidik siswa-siswinya. Tepatlah kiranya ketika lagu Himne Guru masih sangat relevan buat dia, karena dia memang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang sebenarnya….. Semoga engkau bahagia disana “Apa”….

20 April 2009

Mimpi Yang Belum Sempat Terbeli

Mimpi yang tak terbeli, mungkin judul lagu milik Iwan Fals itu cocok menggambarkan kondisi yang dialami pada saat kemarin ketika aku pulang kampung. Besar harapan yang menyelimuti pikiranku ketika mau pulang yaitu aku akan mendapatkan suntikan energi yang lebih dan bisa rileks sebentar untuk mengosongkan beban dan pikiran yang selama ini aku pikul. Apalagi kalau aku ingat dengan segarnya udara pegunungan yang ada didaerahku jelas semakin membetot badan ini untuk segera sampai ke rumah.

Sebelum aku pulang, aku sempat menjanjikan kepada adiku untuk mentraktir dia ketika aku pulang nanti. Berita itu jelas sangat dinanti adiku, bagaimana tidak hampir 6 bulan aku tidak bertemu dengan dia, jadi jelas ada kerinduan yang besar untuk sekedar menyenangkan dia. Waktu itu aku berencana untuk mengajak dia ke sebuah super market (mini mall) yang ada di dekat daerahku. Karena pas aku pulang bertepatan dengan hari Pemilu, ditambah lagi hari besoknya aku mau mengadakan pertemuan buat membahas reuni smp seangkatan ku dulu. Sehingga hari sabtu menjadi waktu yang cocok buat aku jalan dengan adik ku, seperti itulah yang ada dipikiranku saat itu.

Sampai pada hari jumat sore, ketika aku sedang berkumpul dengan beberapa teman smp ku dulu, aku dikejutkan dengan suara tetanggaku yang berlari tergopoh-gopoh, belum sempat aku bertanya ada apa ke dia, karena dia langsung memberitahu kalau ade ku kecelakaan motor. Kaget pasti aku rasakan, tanpa sempat berpikir, amiglada (pikiran reflek ku) ku langsung mengangkat badanku untuk bangun dan langsung berlari sekencang maling yang ketakutan dikejar warga. Betapa kagetnya aku, ketika aku melihat banyak ada gerombolan orang, salah satunya ada di depan saudaraku yang sedang membopong ade ku. Aku bingung apa yang harus aku lakukan waktu itu selain ikut menggiring ade ku yang di masukan ke rumah disertai tangisan keras penuh rasa.

Suara tangisan ade ku semakin membahana menambah sumpeknya rumahku karena banyak orang yang datang untuk sekedar menengok dan mengetahui kondisi ade ku. Saat itulah posisiku sebagai anak pertama dan satu-satunya anak cowok dipertaruhkan. Kondisi saat itu memperkosa aku untuk bisa melakukan peran aku sebagai seorang kaka dan ujung tombak keluarga. Hampir 4 jam aku berjibaku dengan waktu untuk bisa menyelesaikan masalah terutama urusan kerusakan motor dengan pelaku yang menabrak motor ade ku. Setelah selesai semuanya malam itu hanya letih yang aku rasakan sambil sekali-kali melihat kondisi ade ku.

Bisa ditebak hari-hari berikutnya adalah penderitaan bagi ade ku, luka luar yang cukup parah memaksa dia tidak berangkat untuk beberapa hari. Penderitaan itu jelas semakin lengkap dengan gagalnya dia mendapat traktiran dari seorang kaka yang sudah lama ia nantikan. Hanya ada penyesalan dan kesedihan yang terendap dalam dada sembari berharap ada secercah hikmah yang masih bisa terbaca oleh aku dan keluarga. Dan peristiwa itu semakin memperjelas persepsi ku tentang arti sebuah tanggungjawab....bahwa tanggung jawab tak hanya sekedar janji dan kata-kata, tapi harus ada action yang harus dilakukan. Dari kejadian itu aku banyak belajar....Sembari berharap janji itu akan aku penuhi nanti...Amien

01 April 2009

Kebenaran Itu Datang Juga...

Adalah hal yang sangat mutlak ketika kita harus percaya dan yakin pada suara hati atau intuisi. Walaupun kadang kita harus hati-hati juga dan bisa memilah dengan jernih benarkan suarah hati itu benar-benar bisikan kebenaran dari Sang Hati kepada kita. Karena kalau sampai salah mengindentifikasikan, maka penyesalan yang akan menghampiri kita.

Ini tentang kisah perjalanan hidupku, aku dulu pernah ngambil keputusan untuk mengambil suatu sikap yang akan ku pegang. Aku dulu sempet ragu, apakah pilihan itu benar, karena saat itu aku masih menginginkan hal tersebut. Tapi ada suara hati yang membisikanku dengan sangat nyata, kalau hal yang sedang menimpa pada diriku atau apa yang aku miliki, bukan yang terbaik. Oleh karena itulah mungkin Tuhan masih sayang saya aku, sehingga aku di jauhkan dengan hal tersebut. Walaupun sebenarnya pahit, tapi alhamdulillah Sang Waktu bisa mengobati dan menjadi pelipur laraku. Sekarang aku semakin percaya bahwa Tuhan pasti tidak akan rela melihat umatnya mendapatkan sesuatu yang tidak pantas untuk didapatkannya. Jadi apapun cara dan jalannya pasti akan ada upaya untuk mengarah ke kondisi seperti yang Tuhan inginkan.

Ya..karena perjalanan hidupku masih panjang, dan banyak hal yang ingin ku gapai. Apalagi aku memang ingin sekali menjadi manusi terbaik dengan memberi banyak manfaat buat orang lain "Khairunnas anfa'uhum linnas". Aku berharap Tuhan memberikan pundak yang kuat buatku, supaya aku bisa menanggung beban yang lebih berat dari orang lain.......

23 Maret 2009

Menunggu waktu itu tiba

Kemarin aku sudah bulat untuk pulang tangal 26 maret, hari kamis tepatnya tanggal tersebut. Bagi sebagian orang, terutama para pekerja, tanggal tersebutlah yang dinamakan hari kejepit nasional. Ya karena jumatnya merupakan hari yang menjadi ganjalan untuk bisa libur panjang. Oleh karena itu bagi sebagian orang banyak yang menambah waktu liburnya, dengan ijin di hari jumat.

Semula juga aku akan pulang tanggal tersebut, tapi ternyata setelah dipikir-pikir dan ada beberapa pertimbangan, akhirnya aku putuskan pulang tanggal 9 April, kebetulan pas momen nya dengan pesta rakyat (pemilu). Wah ternyata sudah lama juga ya aku tidak pulang ke rumah, kalau tidak salah terakhir aku ada dirumah ketika lebaran idul fitri...wah ternyata sudah lama juga aku tidak melongok kampung halamanku....rasa rindu sudah pasti ada, rasa itu menyeninap dalam dada ini.

Disamping itu, aku juga punya rencana lain, aku ingin mengumpulkan beberapa teman SMP ku dulu, untuk aku ajak jadi Panitia Reuni. Sebenernya keinginan itu sudah lama aku pendam, tapi baru tercetus ketika ada gayung bersambut dari beberapa temanku...

Tentu yang paling aku nanti ketika aku bisa berkumpul bersam keluarga tercinta...walaupun sudah tidak lengkap lagi, tapi insa Allah tidak mengurangi kebahagiaanku untuk bisa pulang ke kampung halaman. Oh iya, aku juga kangen sama tetanggaku, mereka sudah aku anggap saudara dekatku, akan ku bawa sedikit buah tangan buat mereka, walaupun tidak besar tapi moga-moga nilainya mengena di hati mereka. Akhirnya akan kunyanyikan lagu rindu ini, untuk aku bawa pulang nanti, semoga semua tetap merindukanku nanti....seperti aku merindukannya...

02 Maret 2009

Sudah di Kantor Lagi

Setelah hampir 4 bulan berkelana di Kota Mpek2, akhirnya tanggal 28 Februari 2009, aku pulang juga ke tanah jawa. Ada banyak perasaan campur aduk yang aku rasakan sekarang. Rasa senang sudah pasti, karena aku akan kembali ke tempatku yang semula. Rasa sedih juga menghinggapiku, karena aku harus meninggalkan aktivitas dan kebiasaanku selama di Palembang.

Bagiku..perjalanan hidup ini begitu berarti. Aku bahagia menjalani hidup. Aku berharap pengalamanku ini bisa menjadi modal buatku untuk menghadapi masa depan. Bagaimanapun juga, palembang telah menyisakan sejuta kenangan, aku bahagia pernah hidup disana. Ada banyak orang yang selalu bersamaku. Selain tim audit, sama intern pt pusri....ada pa Ahmad yang selalu setia mengantar kita, kemanapun kita pergi. Ada pa budi, yang selalu ditunggu2 karena selalu membawa secangkir minuman....Akh..banyak lagi yang harus ku kenang.

Biar ku simpan kenangan ini, dan tak akan ku hapuskan dari ingatanku. Meminjam istilah Kerispatih...biarlah kisah ini "tak lekang oleh waktu"...Aku berharap next time bisa pergi kesana lagi...semoga

02 Januari 2009

Dream from my father


Dalam hidup ini aku ingin sekali mencapai kebahagian-kebahagian yang sudah aku tetapkan. Sayangnya salah simbol kebahagiaanku telah hilang...ya aku sangat bahagian dan bangga ketika aku bisa memberikan sebuah prestasi bagi keluarga...biasanya waktu itu, bapa ku yang suka antusias menceritakannya pada orang lain,..entah itu temannya, saudaranya, dan teman yang baru dia temui sekalipun.

Sekarang dia telah tiada, tiada lagi sisa2 kebanggaan yang pernah dia ceritakan. Tak ada lagi nada kekaguman atas setiap pencapaianku. Padahal itulah dulu yang menjadi sumber motivasiku melakukan sesuatu. Dan kini setelah aku memikirkan dan merenungkan hal itu. Aku bertekad untuk melakukan yang terbaik dari kemampuan yang aku miliki...demi nama baik ayahku..demi nama baik keluargaku....

Aku berharap aku selalu diberikan kekuatan untuk bisa mewujudkan hal tersebut. Walaupun tanpa dampingan dan wejangan dari seorang ayah...tapi aku yakin aku bisa, karena aku masih punya senjata pamungkas, yaitu doa seorang ibu.

Aku berharap dimanapun aku berada, aku selalu bisa menyesuaikan diri. Ibarat ikan laut, aku tidak boleh asin karena hidup di air laut. Walaupun hidup di kota Jakarta, yang menurut orang kota metropolis, tapi aku tetep berharap aku bisa pegang kendali yang baik atas hidupku. Begitu pun juga aku berharap, aku tetap bisa menjadi seorang guntur yang tetap sederhana, peduli dengan sesama dan tidak akan pernah terjebat dengan westernisasi yang berkedok modernisasi. Karena aku orang kampung, aku harus bisa memegang nilai2 luhur dari daerahku, tanpa terjebak fanatisme yang sempit. Sebagai seorang modern, aku juga harus mampu mengikuti perkembangan jaman. Biar aku tidak dibodohi oleh kehidupan.

Dan terakhir, siapapun calon istriku nanti, hendaknya dia bisa mengikuti dan menerima gaya hidupku. Menerima keluargaku apa adanya...seperti apa adanya seorang guntur. Karena balasannya aku akan menempatkan dia di tempat yg terhormat.....

31 Desember 2008

Akh...Sudah Tahun Baru Lagi...



Tidak terasa memang...waktu seakan berjalan begitu cepat..sehingga pada akhirnya kita sudah sampai di tahun 2009. Tentu banyak harapan dan asa yang mulai disemai lagi, ada mimpi yg coba diwujudkan, ada angan-angan yang coba direalisasikan. Tentunya bermodalkan semangat baru dan jiwa yang baru juga.
Aku memaknai tahun baru sebagai awalan atau garis start yang harus kita jalani. Ibarat sebuah perlombaan lari jarak 100 meter, tahap awal merupakan yang cukup menentukan. Karena disaat itulah kita harus siap-siap untuk membuat sebuah hentakan awal, agar kita tidak terlambat start...karena telat sedikit aja akan fatal akibatnya.

Artinya apa dari semua ini....Ya artinya kita harus siap merancakan dan merencanakan apa-apa aja yang harus kita lakukan. Kalau tidak salah ada 3 pertanyaan yang harus dijawab, satu tahun ke depan kita bisa apa?, punya apa?, jadi apa?. Pertanyaan yang selintas kelihatan simple...tapi kalau kita terjemahkan dalam sebuah renstra diri...akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk memikirkannya...

Aku berharap ditahun depan (2009) aku akan mampu menemukan sesuatu yang aku cari, tetap mempunyai semangat untuk belajar. Dan tentunya bisa membahagiakan orang tua (ibu), bisa menyekolahkan ade. Dan tentu terakhir aku pengin jadi manusia yang bisa bermanfaat buat orang lain...amien....

28 Desember 2008

Terbitnya Sinar Pencerahan

Sengaja aku sedikt pelesetkan judul itu, diambil dari artikelnya Pak Gede Prama. Sebenernya judul yang aslinya sendiri adalah “Terbitnya Matahari Pencerahan”. Aku tidak ingin menjelaskan tentang apa isinya artikel tersebut. Karena lebih enak kalau kita baca secara langsung sehingga bisa langsung menangkap pesan yang disampaikan oleh penulisnya.

Kalimat itu yang bisa mewakili kondisiku sekarang. Aku merasa sedikit tercerahkan dengan membaca tulisan-tulisan beliau (Gede Prama). Walaupun ada yang menuduh dia sebagai orang yang “menjual” tema-tema spiritual. Tapi apapun motif dia, yang pasti aku yakin banyak orang yang mendapatkan pencerahan dari tulisan-tulisan Beliau…Dari dia aku sedikit mengenal tentang Dalai Lama pemimpin Tibet yang bisa mencapai kecerdasan spiritual, Deepak Chopra penulis best seller yang banyak menulis tentang makna bahagia secara spiritual. Belum lagi dia sering mengutip ajaran dari filsuf Cina yaitu Cofucius, yang berbicara tentang kebijaksanaan dalam hidup.

Oh iya..ada cerita niy.. tadi malam aku makan di warung tenda pinggir jalan di depan kantor pusat usri di Palembang, bersama ketua tim dan satu temanku, kami siap-siap mengisi perut dengan berbagi menu yang disajikan di tempat itu…Waktu itu aku pesen kwetiau, makanan sejenis mie yang bila dimakan lebih kenyal. Aku mengenal makanan itu belum lama, kira-kira awal tahun 2007 an. Sebenarnya untuk bisa menikmati makanan ini tidak mahal, karena dengan uang sepuluh ribu aja maka makanan yang lezat akan tersaji di depan kita.

Pada saat kuliah jarang sekali aku makan makanan yang seperti itu, karena aku berfikir bahwa kalau makan yang penting kenyang atau dalam bahasa teman saya ( Olis – teman kost ) sing penting wareg, karena itu tidak jarang kita makan cuma dengan lauk gorengan dua, bisa pake mendoan (makanan khas Purwokerto) atau Bakwan….dan tidak tau kenapa, waktu itu yang ada hanya enak dan enak he2.

Sekarang setelah aku kerja dan bisa mencari uang sendiri, dimana aku bisa membeli makanan yang dulu jarang aku makan. Makanan yang dulu harus mikir dua kali untuk sampai membelinya. Dan sekarang nikmat sekali rasanya, ga tau kenapa, ada pemaknaan yang lebih aja ketika aku bisa membelinya. Sambil tak lupa untuk memanjatkan rasa syukur yang amat tak terkira pada Tuhan. Yang telah melimpahkan begitu banyak nikmat. Padahal mungkin apa yang aku nikmati ini, sudah jauh-jauh hari bisa dilakukan oleh anak orang kaya, dan mungkin ketika memakan makanan tersebut hanya sebatas aktivitas yang biasa tanpa menimbulkan kesan apapun….

Mungkin dengan ini aku sepakat apa yang dikatakan Pak Gede bahwa kita harus bersyukur karena dalam hidup aku memulai dari bawah, sehingga ada selalu rasa nikmat-nikmat baru yang yang kita rasakan ketika diberi rizki……Terima kasih Tuhan..Aku bersyukur dengan apa yang sudah Engkau berikan…

22 Desember 2008

Selamat Hari Jadi mu bu…


Sudah hal yang biasa bila tiap tanggal 22 Desember, diperingati sebagai Hari Ibu. Sampai sekarang saya juga belum tau kenapa harus tanggal 22. Berapapun tanggalnya saya pikir itu bukan masalahnya, yang penting adalah sejauh mana makna dari hari ibu itu kita artikan. Saya pikir hari ibu tidak hanya sebatas sebuah peringatan untuk kita peringati setiap tahunnya, tapi setelah itu maknanya hilang tanpa jejak.

Bagi saya hari ibu hanya sebatas momentum, dimana kita bisa menunjukan kecintaan kita sebagai seorang anak terhadap ibunya. Tidak sekedar mengingatkan kalau ibu adalah orang yang telah berjasa mengantarkan kita ke dunia ini, tapi jauh dari itu, ibu adalah seseorang yang telah berjasa membesarkan kita dan juga telah mengenalkan nilai-nilai kebenaran dan kebijaksanaan dalam hidup.

Setiap doa nya laksana mata air yang akan menyinari hati ini dari kekeringan. Semoga di jaman sekarang, peran ibu akan semakin besar dalam membentuk kepribadian anaknya, sehingga akan hadir sebuah generasi yang akan jauh lebih HEBAT dan lebih DAHSYAT dari sebelumnya…....Jadi di saat raga ini jauh dari mu..hanya ini yang bisa aku ucapkan...SELAMAT HARI IBU....

17 Desember 2008

Berfoto dengan menteri

Pengalaman ini aku alami tanggal 13 Desember 2008, malam minggu tepat nya. Waktu dimana aku bisa istirahat sejenak, untuk bisa melepas segala penat yang kurasakan setelah selama 6 hari diriku hidup dengan bergelimangkan data-data dan angka-angka. Saat itu rumah makan mahkota di Palembang menjadi our destination, karena ternyata setelah sekian lama kita berada di Palembang, belum satu pun makanan khas Palembang yang kita cicipi kecuali mpek-mpek.

Kita sempat cari-cari alamat tempat makan tersebut, karena kita tahu itu juga dari salah satu anggota tim kami yang bareng ngaudit, Pak Asmara nama yang biasa ku panggil. Walaupun sempet kesasar dikit, tapi akhirnya kita ketemu juga dengan "warteg" nya Palembang itu. Dan ternyata ga harus ba bi bu nunggu waktu lama, berbagai aneka macam makanan udah tersaji di depan mata kepala ku sendiri....Bayangkan seorang guntur yang mempunyai filosofi hidup tentang dunia makan memakan...ketika berbicara mengenai makanan maka super point nya hanya ada 2 hal, yang pertama makanan itu enak & yang kedua enak sekali he3...makanya jangan heran kalau sewaktu2 melihat penampakan diriku....

Cukup singkat waktu yang dibutuhkan untuk bisa meng upload makanan yang ada di depan kita untuk sesegera mungkin masuk ke perut kami. Pada saat kita bergegas mau pulang, ada fenomena aneh yang aku lihat (bahasa hiperbola he), aku melihat sosok manusia berambut putih, dan aku merasa ga asing lagi dengan dia. Karena dalam setiap pemberitaan yang menyangkut agenda Presiden (terutama kalau lagi ada rapat), pasti dia senantiasa setia di samping Pak Presiden....Ya...Hatta Rajasa namanya, menteri sekertaris negara alumni ITB ini, sebelumnya memang menjabat sebagai menteri Perhubungan, cuma mungkin karena dia weton nya ga bagus, menurut primbon jawa, sehingga saat dia menjabat sering sekali terjadi kecelakaan, baik itu darat, laut & udara, yang akhirnya dia diganti sama Yusman Safii Jamal.

Aku sempet terbengong-bengong sebentar seperti layaknya si Kabayan yang baru datang ke kota, sampai akhirnya aku beranikan diri untuk meminta foto sama dia. Ternyata perlu keberanian lebih juga lho untuk bisa minta berfoto sama beliau. Untung saja karena saat kuliah aku pernah jadi ketua karang taruna di jurusan dan beberapa kali pidato RT mewakili mahasiswa, jadi keberanian itu muncul juga....

Setelah aku memastikan bahwa dia memang "target" ku, dan dia pun telah mengakui kesalahannya bahwa dia memang Hatta Rajasa yang asli, akhirnya aku minta berfoto ma beliau...ya lumayan deg2 an juga siy..walaupun durasinya cuma beberapa detik....tapi waktu yang sebentar itu sudah cukup untuk membuatku menyimpan memory tersebut. Bahkan tak tanggung2, foto hasil jepretan itu langsung aku upload ke fs,...apalagi niatnya kalo bukan somboh he3....maklum baru aku sadari ternyata semenjak dari orok aku sudah punya bawaan penyakit nasris....he3